MAPIN Audiensi Dengan Menristek

Pengurus MAPIN dan Menristek

Pengurus Pusat MAPIN pada Kamis 24 Maret 2011 melakukan audiensi dengan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Suharna Surapranata. Suharna yang didampingi  Staf ahli menteri Ade Komara  menerima pengurus MAPIN pagi hari di ruang kerjanya di lantai 24 Gedung BPPT II, Jl MH Thamrin No. 8, Jakarta. Di awal pertemuan Ketua Umum MAPIN Ibu Dewayany Sutrisno memulai dengan memperkenalkan MAPIN.  Disebutkan Bu Ewa, panggilan akrab Ibu Dewayany, bahwa MAPIN beranggotakan dari berbagai kalangan, baik  pemerintahan, universitas dan swasta.

Beberapa agenda kegiatan MAPIN kedepan juga disampaikan Bu Ewa. Yang terdekat 5-6 April ini akan dilaksanakan Seminar Nasional Geomatika dengan tema Pengelolaan Sumberdaya dan Penanggulangan Bencana Alam di Kantor Bakosurtanal, Cibinong. Pada Juninya akan dilakukan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) MAPIN yang ke-18 di Universitas Diponegoro, Semarang.  MAPIN juga tengah berupaya mendapatkan status sebagai sebuah lembaga Ahli Profesi berbadan hukum. Jika sudah jelas statusnya,  MAPIN dapat melakukan sertifikasi tenaga ahli penginderaan jauh dan lebih leluasa menjalin kerja sama dengan berbagai fihak baik dalam maupun luar negeri.

Bu Ewa yang didampingi 3 pengurus pusatnya: Alinda (Sekjen), Harry Tan (Bidang Pengembangan Teknologi) dan Laju Gandharum (Bidang Sistem Informasi) menutup pengenalan MAPIN dengan meminta Pak Menristek untuk bersedia menjadi Dewan Pembina MAPIN di kepengurusan MAPIN periode 2010-2013. Alahmdulillah Menristek menyetujui.

Dalam kesempatan itu Menristek menyampaikan bahwa pembangunan bangsa tak lepas dari peran masyarakatnya. Peran pembangunan dipegang oleh tiga peran pentik yakni pemerintah, swasta dan society atau organisasi masyarakat (ormas). Ormas ilmu pengetahuan (iptek) dapat berperan memberikan masukan kepada pemerintah dalam membuat kebijakan. Sedang pemerintah sendiri mempunyai peran memfasilitasi, memberikan kemudahan regulasi, memberikan insentif, meningkatkan kapasitas kepada masyarakat luas termasuk dalam penguasaan  iptek. Tambah Suharna, jika swasta diberikan kemudahan dalam berusaha sehingga perusahaan swasta makin besar, tentu pemerintah dapat imbal baliknya melalui pajak,  pajaknya menjadi lebih besar. Pajak inilah yang dikembalikan ke masyarakat.

Suharna juga menyatakan, kemajuan bangsa didukung oleh pencapaian kemajuan ipteknya. Ia mengakui bahwa iptek Indonesia belumlah maju sesuai yang diharapkan. Bukannya negara tidak memikirkan, sehingga masyarakat mengganggap iptek termarjinalkan. Di negara maju, menurutnya, kegiatan iptek lebih banyak dikerjakan oleh swasta. Pemerintah lebih kepada memfasilitasi kegiatan dengan pemberian insentif dan berbagai kemudahan regulasi. Kebijakan iptek Indonesia ke depan sedang diarahkan ke sana, suasana akan diciptakan dimana magnitut pendanaannya bukan pada pemerintah justru pada organisasi non pemerintah ataupun swasta. Harapannya, perkembangan iptek di dengan sistem ini akan lebih besar. Di pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu jilid ke-2 kebijkan tersebut dinamakan sebagai Solusi Sistem Inovasi.

Suharna alumnus Fisika UI ini juga menginggung tentang RUU Geospasial yang tengah digodok di DPR. Ia berharap jika RUU tersebut gol, diharapkan tidak lagi ada tumpang tindih pekerjaan antar lembaga dan antar aktor yang berperan, justru para pemangku peran tersebut  malah dapat berkolaborasi  menghasilkan produk inovasi unggul.

Salah satu organisasi yang bisa dijadikan contoh baik menurut Suharna adalah GIS Development. GIS Development  merupakan organisasi nirlaba yang bergerak di bidang media promosi dan penyebaran informasi tentang perkembangan teknologi geospasial di segala bidang. Ia telah mampu menjadi ‘intermediator’ antar pengguna teknologi GIS di berbagai negara. Mengumpulkan orang-orang dari kalangan pemerintah, swasta dan industri dalam suatu penyelenggaraan, seperti yang baru-baru ini dilakukannya dalam GTUS (Geospatial Technologi Update Seminar) di Jakarta pada Pebruari lalu  yang dibuka oleh Suharna.

Tandasnya, MAPIN bisa mengelola organisasinya seperti organisasasi nirlaba. Dengan pegelolaan yang profesional, MAPIN akan mudah mencari donatur. Jika dalam organisasi profit keuntungan diberikan kepada pemegang saham, maka dalam organisasi nir laba  sahamnya dalam bentuk kebijakan-kebijakan yang dihasilkan.

Pertemuanpun ditutup dengan saling jabat tangan dan foto bersama. Sebuah pertemuan yang sangat berarti, membuat pengurus MAPIN kian terpompa semangatnya tuk mengambil peran dalam memajukan dunia penginderaan jauh di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: